Selama bertahun-tahun, pasar ponsel lipat (foldable) adalah milik Samsung. Tapi tahun 2026, Motorola akhirnya datang dengan dua senjata sekaligus: Razr Ultra untuk pasar clamshell, dan Motorola Fold untuk kelas buku yang selama ini dikuasai Galaxy Z Fold series.

Pertanyaannya: apakah ini cukup untuk menggoyang Samsung? Atau Motorola hanya akan menjadi pemain pelengkap?
Cerita di Balik Strategi Motorola
Motorola sebenarnya bukan pendatang baru di pasar foldable. Mereka sudah merilis Razr generasi pertama tahun 2019 dan terus memperbarui lini clamshell. Tapi yang berbeda tahun ini adalah kehadiran Motorola Fold, produk yang menurut CNET dikembangkan selama tiga tahun dengan lebih dari 50 paten engsel baru.
Ini menunjukkan ambisi Motorola tidak main-main. Mereka tidak hanya ingin bersaing di segmen clamshell yang sudah mereka kuasai, tapi juga langsung menantang Samsung di segmen paling premium.
Dua Produk, Dua Pendekatan
Strategi Motorola cukup cerdas: mereka membagi pasar menjadi dua dengan pendekatan yang berbeda.
Razr Ultra 2026 dibanderol $999, sama dengan Galaxy Z Flip 6. Keunggulannya ada di layar cover 3,6 inci (terbesar di kelas clamshell), baterai 4.200mAh dengan fast charging 68W, dan sertifikasi IP68. Yang menjadi catatan: chip Snapdragon 8 Elite Gen 3 yang digunakan disebut-sebut sama dengan generasi 2025, menurut laporan 9to5Google dan Android Central.
Motorola Fold dibanderol $1.399, lebih murah $100 dari Galaxy Z Fold. Di atas kertas, spesifikasinya mengesankan: layar 8 inci 120Hz dengan kecerahan 2.600 nits (lebih terang dari Z Fold), kamera 200MP dengan sensor Samsung HP7, baterai 5.000mAh dengan pengisian 125W. Harga yang lebih murah dengan spesifikasi yang kompetitif membuat Motorola Fold layak diperhitungkan.
Yang Membuat Motorola Berbeda
Ada beberapa hal yang membuat pendekatan Motorola unik. Pertama, layar cover 3,6 inci di Razr Ultra memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi secara penuh tanpa perlu membuka ponsel. Samsung di Z Flip 6 hanya menawarkan layar cover 3,4 inci dengan fungsionalitas terbatas.
Kedua, pengisian daya 125W di Motorola Fold adalah yang tercepat di kelas foldable. Galaxy Z Fold masih terjebak di 45W. Perbedaan ini signifikan dalam penggunaan sehari-hari.
Ketiga, kamera 200MP di Motorola Fold menggunakan sensor HP7 dari Samsung — sensor yang sama dengan yang digunakan beberapa flagship Samsung. Ironis memang: Motorola menggunakan sensor Samsung untuk melawan Samsung.
Tapi ada satu kelemahan besar: komitmen software update. Motorola hanya menjanjikan 3 tahun update OS. Samsung menawarkan 7 tahun. Untuk ponsel seharga $999-$1.399, perbedaan ini bisa menjadi alasan utama konsumen memilih Samsung daripada Motorola.
Bukan untuk Semua Orang
Motorola menargetkan pengguna yang upgrade setiap 2-3 tahun dan menginginkan inovasi di harga yang lebih kompetitif. Mereka tidak mengejar pengguna yang menginginkan flagship dengan chip terbaru setiap tahun — Razr Ultra menggunakan chip yang sama dengan tahun lalu.
Menurut data IDC, pasar foldable global tumbuh 45% YoY dengan 22 juta unit terjual. Samsung menguasai 52%, diikuti Huawei 18%, dan Motorola hanya 9%. Dengan strategi agresif ini, Motorola diprediksi bisa naik ke 15-17% pada akhir 2027.
Apakah cukup? Belum tentu. Tapi yang jelas, persaingan di pasar foldable tahun ini akan menjadi yang paling menarik dalam sejarah.
Sumber: CNET, Mashable, PhoneArena, 9to5Google, Android Central, IDC