Keberadaan TikTok Mengancam Ekosistem Google

Dewasa ini, hampir 40 persen anak muda mencari tempat makan melalui aplikasi TikTok dan bukan mencari di Google seperti yang biasa dilakukan dulu. Sehingga, tidak hanya Instagram namun ekosistem terbesar yakni Google mengaku merasa terancam dengan perkembangan aplikasi berbasis audio visual tersebut.

Sejak diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, aplikasi TikTok perlahan tapi pasti berhasil merebut hati para penggunanya. Aplikasi jaringan sosial dan video musik asal Cina ini mulai merambah ke Indonesia pada September 2017. Tak hanya Indonesia, pada tahun yang sama pun mulai merambah Amerika, India dan negara-negara lainnya.

Tak perlu waktu lama, platform yang digarap oleh ByteDance tersebut membuat anak-anak dan remaja bahkan orang dewasa hingga lansia pun sudah banyak yang ketagihan menggunakan aplikasi sosial media satu ini. Karena TikTok menawarkan berbagai fitur unik dan dibanjiri konten yang menarik, aneh sampai konyol.

Wakil Presiden Senior Prabhakar Raghavan, yang memimpin divisi Pengetahuan & Informasi Google, secara tidak langsung mencatat pengguna dari kalangan muda cenderung beralih ke aplikasi seperti TikTok dan Instagram ketimbang mesin pencari Google.

Para pengguna kalangan anak muda disebutnya cenderung tidak mengetikkan kata kunci, melainkan mencari konten audio visual dengan cara baru yang lebih mendalam.

“Dalam penelitian kami, hampir 40 persen anak muda, ketika mereka mencari tempat untuk makan siang, mereka tidak membuka Google Maps atau Penelusuran (Search). Mereka mengecek TikTok atau Instagram,” katanya.

Google mengakui angka tersebut merupakan nilai yang harus diakui mengejutkan. Penelitian itu dilakukan secara internal, melibatkan survei pengguna di AS rentang usia 18 hingga 24 tahun.

Data tersebut belum dipublikasikan secara resmi oleh Google, namun sudah dibocorkan kepada Google lewat Tech Crunch. Nantinya, data itu dapat diakses ke situs kompetisi Google bersama dengan statistik lain.

Sementara, pengguna internet yang lebih tua mungkin tidak dapat memusatkan pikiran mereka untuk beralih ke aplikasi video sosial untuk menemukan restoran atau rekomendasi lokasi tempat wisata.

Sementara pengguna yang lebih muda pada akhirnya dapat meluncurkan semacam aplikasi peta untuk tujuan navigasi, data ini menunjukkan mereka tidak perlu memulai perjalanan mereka di Google lagi.

Itu berarti semua pekerjaan yang dilakukan Google selama bertahun-tahun untuk mengatur, menyusun, dan merekomendasikan berbagai bisnis seperti restoran lokal atau di Google Maps bisa ditinggalkan oleh pengguna yang lebih muda.

Raghavan juga menjelaskan bagaimana generasi muda umumnya tertarik pada pencarian dan penemuan yang lebih ‘kaya visual’, dan itu tidak hanya terbatas pada tempat makan.

TikTok lebih dahulu membuat Instagram ketar-ketir. Meta selaku induk perusahaan dari Instagram pun terus berfokus kepada pengembangan video di platform tersebut.

Akhir pekan ini, Instagram kabarnya sedang menguji fitur bernama Live Producer yang membuat pengguna bisa bersiaran langsung dari desktop menggunakan perangkat lunak eksternal. Sebelumnya, Marc Zuckerberg selaku CEO Meta juga telah mengumumkan Instagram sedang menguji lini masa berformat layar penuh yang sangat mirip dengan TikTok, bernama Reels.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *